KanalX, Jakarta – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan masyarakat. Kenaikan kurs dolar tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya impor, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat, memperbesar biaya produksi, dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Namun, Ketua Umum DPP Garuda Astacita Nusantara (GAN), M. Burhanuddin, menilai bahwa situasi tersebut tidak seharusnya disikapi dengan pesimisme. Sebaliknya, kondisi ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat reformasi ekonomi dan memperkuat kemandirian nasional di berbagai sektor strategis.
Menurut Burhanuddin, ketergantungan yang tinggi terhadap barang impor membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap gejolak nilai tukar. Ketika dolar menguat, berbagai kebutuhan industri yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri otomatis mengalami kenaikan biaya, yang pada akhirnya turut memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
Karena itu, ia menilai penguatan sektor produksi dalam negeri harus menjadi agenda utama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Indonesia perlu meningkatkan kemampuan industri nasional agar mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Dalam pandangannya, hilirisasi yang selama ini dijalankan pemerintah merupakan langkah yang tepat, namun cakupannya perlu diperluas. Tidak hanya sektor pertambangan, tetapi juga sektor pertanian, perikanan, farmasi, teknologi, hingga industri energi baru dan terbarukan harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional.
Burhanuddin menjelaskan bahwa negara-negara yang berhasil membangun ekonomi kuat umumnya memiliki kemampuan mengolah sumber daya sendiri sebelum dipasarkan ke dunia internasional. Dengan demikian, manfaat ekonomi yang diperoleh menjadi jauh lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.
Selain memperkuat sektor industri, ia juga menyoroti pentingnya membangun ketahanan pangan dan energi nasional. Menurutnya, kedua sektor tersebut merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi tekanan eksternal seperti kenaikan dolar atau perlambatan ekonomi global.
Indonesia, kata Burhanuddin, memiliki potensi luar biasa di sektor pertanian dan kelautan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Padahal, dengan modernisasi teknologi pertanian, penguatan infrastruktur irigasi, dan peningkatan produktivitas nelayan, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap berbagai komoditas impor.
Hal yang sama berlaku pada sektor energi. Potensi panas bumi, tenaga surya, tenaga air, hingga biomassa yang dimiliki Indonesia dapat menjadi sumber energi masa depan yang mampu mengurangi tekanan akibat fluktuasi harga energi global dan pelemahan nilai tukar.
Di sisi lain, Burhanuddin mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh indikator makroekonomi, tetapi juga oleh keyakinan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kemampuan negara dalam mengelola tantangan yang ada.
Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus menjaga komunikasi yang terbuka dan transparan kepada publik. Kebijakan pengendalian inflasi, penguatan cadangan devisa, dan stabilitas fiskal harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga optimisme masyarakat.
Burhanuddin juga mendorong perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional dengan negara-negara mitra strategis. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan dan memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.
Menurutnya, kekuatan ekonomi nasional juga tidak dapat dilepaskan dari peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor ini telah terbukti menjadi penyelamat ekonomi Indonesia dalam berbagai krisis dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Oleh sebab itu, dukungan terhadap UMKM melalui akses pembiayaan, digitalisasi usaha, pelatihan, dan perluasan pasar harus terus ditingkatkan. Pasar domestik yang kuat akan menjadi benteng penting ketika kondisi ekonomi global sedang mengalami tekanan.
Burhanuddin juga menyoroti perlunya langkah tegas dalam memberantas berbagai bentuk kebocoran ekonomi yang selama ini merugikan negara. Korupsi, penyelundupan, pertambangan ilegal, penghindaran pajak, dan praktik ekonomi ilegal lainnya dinilai menghambat upaya memperkuat perekonomian nasional.
Ia meyakini bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS apabila seluruh elemen bangsa bersatu dan fokus membangun kekuatan ekonomi dari dalam negeri. Menurutnya, tantangan ekonomi global justru harus menjadi pendorong lahirnya kebijakan yang lebih progresif dan berorientasi pada kepentingan nasional.
“Bukan dolar yang harus kita takuti, tetapi ketergantungan yang berlebihan terhadap pihak luar. Jika Indonesia mampu memperkuat industri, pangan, energi, UMKM, dan tata kelola ekonomi yang bersih, maka kita tidak hanya mampu menghadapi gejolak global, tetapi juga menjadi bangsa yang lebih mandiri dan berdaulat secara ekonomi,” tegas M. Burhanuddin












