Ragam

Cahaya Tombak Nelayan Rumabati Fakfak: Kajian Tasawuf Irfani tentang Rezeki Halal dan Mujahadah di Laut Papua

27
×

Cahaya Tombak Nelayan Rumabati Fakfak: Kajian Tasawuf Irfani tentang Rezeki Halal dan Mujahadah di Laut Papua

Sebarkan artikel ini

KANALX.COM, FAKFAK, PAPUA BARAT — Sebuah risalah spiritual bertajuk “Nurul Harbah: Tajalli Ikan Samandar dalam Maqam Mujahadah dan Musyahadah” menghadirkan refleksi mendalam tentang makna rezeki halal, perjuangan hidup, dan perjalanan ruhani melalui simbol kehidupan nelayan di Kampung Rumabati, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kajian yang disusun dalam bingkai Tasawuf Irfani Nusantara itu mengangkat kisah nelayan penombak ikan Samandar atau Baronang sebagai metafora perjuangan manusia menaklukkan hawa nafsu dan menjemput keberkahan Ilahi.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ikan Samandar yang diperoleh nelayan Rumabati bukanlah hasil pancingan biasa, melainkan hasil perjuangan berat di kedalaman laut malam Papua. Para nelayan menyelam dengan senter di kepala dan tombak besi di tangan, mempertaruhkan nyawa demi mencari rezeki halal bagi keluarga mereka.

“Ia bukan ikan yang datang dengan tipu daya umpan dan kail. Ia adalah hasil mujahadah. Ia adalah rezeki yang ditombak,” demikian penggalan risalah yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Narasi sufistik itu menempatkan tombak sebagai simbol himmah atau tekad ruhani, sedangkan cahaya senter dipahami sebagai nur bashirah — cahaya petunjuk batin yang membimbing manusia di tengah gelapnya kehidupan dunia.

Kajian ini mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 39–40:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan.”

Ayat tersebut dijadikan dasar bahwa perjuangan nelayan Rumabati mencerminkan nilai sa’yu atau ikhtiar sejati dalam Islam. Tombak yang digunakan nelayan dipandang bukan sekadar alat berburu, tetapi lambang jihad mencari rezeki halal dengan penuh tawakal.

Selain itu, risalah ini juga mengaitkan aktivitas menyelam di laut malam dengan proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Gelapnya laut dipandang sebagai simbol gelapnya syahwat dan kelalaian manusia, sementara cahaya senter menjadi lambang hidayah Allah SWT.

Dalam salah satu bagian kajian disebutkan:

“Tombaklah nafsumu yang seperti Samandar, licin bersembunyi di karang dunia. Tombaklah lalai dengan tombak zikirullah.”

Penulis juga mengangkat hadis Rasulullah SAW yang menyebut bahwa makanan terbaik adalah hasil kerja tangan sendiri. Nilai tersebut dipadukan dengan realitas kehidupan nelayan Papua yang bekerja keras menghadapi ombak dan gelap laut demi memperoleh tangkapan ikan yang halal dan berkah.

Risalah ini turut menyoroti filosofi pembakaran ikan Samandar sebagai simbol penyucian diri. Api yang membakar ikan dimaknai sebagai proses pembakaran ego dan hawa nafsu agar manusia hanya menyisakan keridhaan Allah SWT dalam hidupnya.

“Bakarlah ‘aku’-mu seperti aku dibakar. Biarlah yang tersisa bukan aromamu, tapi aroma ridha-Nya,” demikian kutipan reflektif dalam naskah tersebut.

Kajian Tasawuf Irfani Nusantara ini ditutup dengan doa dan seruan spiritual agar manusia mampu menjadi “penombak yang jujur” dalam menjalani kehidupan, bukan pribadi yang menipu demi memperoleh keuntungan duniawi.

Melalui pendekatan sastra sufistik yang berpadu dengan realitas budaya pesisir Papua Barat, risalah ini menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga madrasah kehidupan yang mengajarkan tauhid, perjuangan, dan rasa syukur kepada Sang Pemberi Rezeki.

Penulis:
sahabat ustadz Dano JS (Jouguru)
Pimpinan MT Basyaairul Khaeraat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *