KANALX.COM, FAKFAK — Di tengah sunyi Kampung Rumbati, Distrik Furwagi, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, berdiri sebuah monumen yang bukan sekadar tugu batu penanda sejarah. Monumen Rumbati adalah saksi bisu perjuangan, pengorbanan, dan kasih sayang para prajurit RTP Menpor — Resimen Pelopor yang dipimpin oleh Hudaya Sumarya dalam operasi besar Trikora untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.
Namun sejarah Rumbati tidak berhenti pada letusan senjata dan strategi militer. Di kampung kecil inilah lahir kisah kemanusiaan yang melampaui perang — kisah tentang tentara yang memilih menjadi guru, sahabat, bahkan keluarga bagi masyarakat Papua.
Pasca pertempuran tahun 1962, para prajurit Resimen Pelopor memutuskan menetap selama kurang lebih satu tahun di Kampung Rumbati. Mereka hidup bersama masyarakat, membangun hubungan yang tidak hanya didasari semangat perjuangan, tetapi juga rasa cinta terhadap rakyat yang mereka bela.
Loreng tempur perlahan berganti menjadi pakaian pengajar. Laras senjata berubah menjadi kapur tulis. Di bawah rindangnya pohon kelapa dan hamparan tanah sagu, para prajurit membangun ruang-ruang belajar darurat untuk anak-anak kampung.
Setiap pagi mereka mengajarkan huruf dan angka. Siang hari mereka membantu warga berkebun dan membangun fasilitas sederhana. Ketika malam tiba, para prajurit meninabobokan anak-anak Rumbati dengan kisah tentang Indonesia, tentang tanah air, dan tentang harapan masa depan Papua yang damai.
Masyarakat Rumbati tidak melupakan pengabdian itu. Hingga kini, jejak kasih para prajurit hidup dalam nama-nama anak di kampung tersebut. Banyak warga yang memberi nama anak mereka seperti Joko, Slamet, Sugeng, hingga Poniman sebagai bentuk penghormatan kepada para anggota Resimen Pelopor yang pernah hadir dan hidup bersama mereka.
Nama-nama itu bukan sekadar identitas, melainkan simbol ikatan batin antara rakyat Papua dan para prajurit yang pernah datang membawa perjuangan sekaligus kasih sayang.
Kenangan itu bahkan tetap hidup dalam lagu rakyat yang masih dinyanyikan turun-temurun di honai-honai Kampung Rumbati. Lagu tersebut mengisahkan pendaratan heroik Pasukan Pelopor di Tanjung Fatagar pada tahun 1962.
“Peristiwa telah terjadi di Tanjung Fatagar,
Tahun 62 Pelopor mendarat di Kampung Rumbati…”
Bagi masyarakat setempat, lirik tersebut bukan hanya senandung pengantar tidur. Lagu itu menjadi ikrar kesetiaan lintas generasi, bukti bahwa Resimen Pelopor telah menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan mereka.
Monumen Rumbati hari ini bukan hanya penanda perjuangan fisik dalam Operasi Trikora. Monumen itu juga menjadi simbol persaudaraan, pendidikan, dan kemanusiaan yang tumbuh di tengah konflik sejarah bangsa.
Di Rumbati, monumen tertinggi bukanlah tugu batu yang menjulang. Monumen sejati adalah nama anak-anak yang diwariskan, senyum murid-murid yang pernah diajar, dan lagu yang terus dinyanyikan dari generasi ke generasi.
Di tanah Papua Barat itu, sejarah tidak hanya dikenang — tetapi hidup dalam kasih sayang rakyat kepada para prajurit yang pernah datang membawa Indonesia.
Rumbati, 12 Mei 2026
Penulis: ust. Dano JS (Jouguru)
